Sejarah Dinasti Chakri Thailand Sebelum Vajiralongkron Bertakhta


 


Dinasti Chakri ialah dinasti raja-raja Siam yang dibangun oleh seorang tentara namanya Thongduang. Seperti banyak anak di negerinya, Thongduang pernah belajar di kuil Buddha. Ayah Thongduang ialah anak seorang pegawai dari Kerajaan Ayutthaya namanya Thongdi alias Somdet Phra Prathom Borom Maha Rajchanok, serta ibunya namanya Daoreung. Kerajaan Ayutthaya usai saat Taksin jadi raja di Thonburi—seberang kota Bangkok yang dibatasi Sungai Chao Phraya.

Meningkatkan Kualitas Bermain Slot

"Thongduang, turunan dari salah satunya keluarga Mon yang masih tetap hidup dari elite lama, tapi dengan seorang ibu Cina, sudah masuk dengan pasukan Taksin untuk jenderal tepercaya," catat Anthony Reid dalam A History of Southeast Asia: Critical Crossroads(2015:215).


Chris Baker serta Pasuk Phongpaichit dalam A History of Ayutthaya (2017:267) mengatakan jika Thongduang mengejar keberhasilan saudara-saudaranya untuk komandan militer. Thongduang, seperti dicatat Patit Paban Mishra dalam The History of Thailand (71-72), mengalahkan Vientiane pada 1778.


Pada 1781, Bunma serta Thongduang pimpin pasukan ke Kamboja. "Saat tentara kembali pada Thonburi, keponakan Thongduan, yang ialah gubernur Khorat, diam-diam geser ke Thonburi untuk mempersiapkan kup," tulis Chris Baker serta Pasuk Phongpaichit (2017:268).


Kericuhan juga berlangsung, tapi Thongduang sukses kuasai situasi. Semenjak 10 Juni 1782, Thongduang jadi raja serta menggunakan nama Ramathibodi—pendiri Kerajaan Ayutthaya—dan diketahui untuk Rama I, pemula dinasti Chakri.


Rama I bertakhta sampai 1809, sampai ia tutup umur pada 7 September 1809. Thongduang mempunyai 42 anak dari permaisuri serta selir-selirnya. Anaknya, hasil perkawinan Rama I dengan Amarindra yang namanya Chim naik takhta untuk Rama II serta berkuasa sampai 1824. Selanjutnya Nang Klao Chao Yu Hua menggantinya untuk Rama III. Sesudah bertakhta semasa 26 tahun, dari 1824 sampai 1851, Rama III tutup umur serta diganti adiknya, Maha Mongkut yang berkuasa dari 1851 sampai 1868 untuk Rama IV.


Maha Mongkut berteman dengan beberapa pimpinan beberapa negara Eropa seperti Inggris serta Prancis. Dia waspada sekaligus juga terbuka pada orang asing yang berdagang di Asia Tenggara.


Menurut Anthony Reid dalam Ke arah Riwayat Sumatra: Di antara Indonesia serta Dunia (2011:251), seorang pedagang namanya Read "terus-terusan menggerakkan Raja Mongkut supaya siaga pada tipu tipu daya Prancis serta supaya menempatkan keyakinan yang semakin besar pada Inggris."


Raja Mongkut selanjutnya diingat melalui film Anna and the King (1999). Anna Leonowens dalam film itu ialah wanita Inggris sebagai guru buat beberapa anak Mongkut, diantaranya Chulalongkorn, yang nantinya jadi raja.


Chulalongkorn naik takhta pada 1868 untuk Rama V. Dalam The Chakri Monarchs and the Thai People: A Special Relationship (1984:28) disebut jika semasa 42 tahun pemerintahannya, Chulalongkorn membuat skema kesehatan umum. Penyaruannya untuk rakyat biasa, membuat memahami akan situasi penduduknya dengan cara langsung.


Raja Chulalongkorn memang tidak senang sebatas jadi raja yang diam di istana. Historical Dictionary of Thailand meyebut Chulalongkorn mengembara di seputar Bangkok dengan baju petani biasa. Dia selanjutnya menulis buku Far From Home serta The Royal Ceremonies of the Twelve Months, dan 25 volume catatan harian.


Chulalongkorn sempat juga 3x berkunjung ke Jawa, yaitu pada 1871, 1896, serta 1901. Majalah Warga ASEAN Edisi ke-23: Tahun Kebudayaan ASEAN (2020:40) menulis jika pada 1871, sesudah berkunjung ke Batavia, Raja Siam ini membatik di Semarang. Dia memberikan hadiah satu patung gajah yang hinggi sekarang ada di muka Museum Nasional, Jakarta. Karenanya, museum ini dikenal juga untuk Museum Gajah.


Popular posts from this blog

difficult to be supportive of each other

Sekilas Tentang 1899 Hoffenheim

Perkembangan Klub Dan Liga Champions