Bagaimana Pembunuhan Anak-Anak Kobe Mengubah UU Remaja Jepang
Satu hari pada musim semi 1997, warga Jepang mendapatkan panorama kejam yang susah dilalaikan. Peristiwanya di kota Kobe, kota pemroduksi daging sapi paling lezat di dunia yang 2 tahun awalnya diguncang gempa. Pemerintah Jepang habiskan waktu sekian tahun untuk mengatasi 45 ribu orang yang kehilangan rumah serta minimal enam ribu orang wafat.
| Meningkatkan Kualitas Bermain Slot |
Di tengahnya usaha rekonstruksi, dua murid sekolah mendadak terserang dengan palu karet. Walau cedera, kedua-duanya sukses bertahan hidup. Sebulan selanjutnya, persisnya 16 Maret 1997, seorang gadis alami gempuran.
Si gadis baru berumur 10 tahun waktu aktor bertanya dimana ia dapat membersihkan tangan. Dengan polos, korban mengantarkan aktor ke satu taman. Sesampainya di TKP, aktor memukuli korban dengan palu sampai wafat.
Belum senang, aktor mengarah korban lain, kembali lagi seorang gadis yang kesempatan ini berumur sembilan tahun. Korban mendapatkan cedera tusukan serta harus dirawat di dalam rumah sakit seputar tiga minggu. Insiden cuma memiliki jarak 200-300 mtr. dari tempat pembunuhan.
"Saya bereksperimen suci ini hari untuk menunjukkan begitu rapuhnya manusia… Saya melontarkan palu saat wanita itu melihatku. Kupikir saya memukulnya dengan keras seringkali. Tetapi saya susah mengingatnya sebab benar-benar semangat," catat si pembunuh dalam buku sehari-hari.
Semasa April 1997, tidak ada catatan sah korban penambahan dari aktor yang serupa. Tetapi mendadak pada 27 Mei 1997, penjaga sekolah SMP Tomigaoka mendapatkan seonggok kepala tanpa ada tubuh yang terkapar di muka gerbang sekolah menghadap ke jalan raya seputar jam 06.40. Muka anak kecil itu sarat dengan guratan. Darah bertebaran dimana saja.
Sekolah langsung dikerumuni orang hingga diliburkan. Plastik biru untuk tutupi tempat insiden kasus selekasnya penuhi gerbang sekolah.
Korban ialah Jun Hase, murid Sekolah Fundamen Luar Biasa Tainohata. Di hari yang serupa, tersisa badan Jun diketemukan di pegunungan Mountain Tank, tempat menara pemancar signal ada. Polisi mendapatkan kunci gembok baru yang menunjukkan ada seorang yang masuk dengan cara ilegal ke pemancar. Polisi percaya aktor mencekik serta memangkas kepala Jun di tempat dengan pisau serta gergaji tangan.
Si aktor betul-betul tidak merasai penyesalan. Ia serta pernah ejakulasi di muka potongan mayat korban serta minum beberapa darah korban di tempat serta bawa pulang bekasnya.
Dari info saksi-saksi, polisi yakini korban untuk pria berumur 20-40 tahun. Insiden itu membuat sepi sekolah serta taman bermain. Masyarakat kota yang cuma seputar 1,5 juta itu takut buah hatinya bisa menjadi korban selanjutnya.
